KOPERASI dan UMKM
| |
KOPERASI dan UMKM
Saya Menjalankan Fungsi Pelayanan
Cianjur. Pelita
Kepala Seksi Bina Kelembagaan Koperasi (BKK) pada Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Cianjur. Jawa Barat (Jabar). Nangnang Kusmarna. menyatakan, keterlibatan dirinya dalam proses penjualan Gudang Lantai dan Kios (GLK) KUD (Koperasi Unit Desa) Bina Setia Raharja (Betah). Mayak, Cibeber kepada Yayasan Pendidikan An-Nahl, semata-mata hanya menjalankan fungsi pelayanan.
Terjadinya penjualan GLK KUD Betah. Mayak. menjadi urustfn internal pengurus dan anggota KUD. karena sebe-lumnyajsudah ada pelunasan kepada pemerintah." ungkap Nangnajig kepada Pelita. Senin (7/12). menanggapi pemberitaan tentang GLK KUD Betah Mayak. Cibeber dijual kepada Yayasan Pendidikan An-Nahl Rp 150.000.000 (
Nangnang yang sebelumnya memberikan penjelasan secara sepotong-sepotong, menjelaskan penjualan GLK KUD Betah kepada Yayasan An-Nahl. bukan Rp 150.000.000. tapi yang benar sebesar Rpl27.000.000 dengan perincian penjualan tanah GLK seluas 1.500 M2 dan bangunan GLK seharga Rp 106.500.000 dan penjualan tanah milik KUD seluas 700 M2 seharga Rp21.000.000.
Dijelaskan, proses penjualan GLK KUD Betah. Mayak Cibeber, atas dasar rujukan Surat Menkeu RI No S-455/ MK.011/1983 tangga] 6 Mei 1982. Surat Sekjen Pembinaan Koperasi Pedesaan Departemen Koperasi Pengusaha Kecil dan
Sosialisasi UMKM Setengah Hati
| |
Sosialisasi UMKM Setengah Hati
Oleh M Ansorudin
Peneliti bidang kebijakan BPP Teknologi
SEKTOR UMKM, meskipun tahan terhadap krisis ekonomi, sampai sekarang belum menjadi primadona dalam pengembangan pilar ekonomi
Sebetulnya apa yang salah dengan UMKM di Indonesia? Benarkah karena gagalnya sosialisasi pentingnya UMKM sebagai salah satu kekuatan ekonomi di tengah badai krisis seperti sekarang ini?
Bila memang demikian, coba kita urai seberapa besar keberhasilan sosialisasi UMKM di dalam negeri.
Ukuran untuk mengetahui keberhasilan dari sosialisasi UMKM itu cukup sederhana, hanya dua, yakni waktu dan jumlah.
Berapa waktu yang diperlukan untuk melakukan sosialisasi dan berapa jumlah UMKM yang mengikuti pesan sosialisasi tersebut.
Kedua hal tersebut tergantung pula pada target dari pesan yang diinginkan. Jika targetnya hanya perubahan pengetahuan dari para pelaku UMKM atau targetnya sampai kepada perubahan sikap dan perubahan perilaku tentunya cara penyam-
paiannya akan berbeda. Misalnya target dari pesan sosialisasi itu hanya perubahan pengetahuan, biasanya yang diperlukan hanya alih informasi dari pesan yang akan disampaikan. Kalau targetnya sampai perubahan sikap, biasanya menyampaikan pengalaman dari para pelaku sendiri lebih baik. Jadi belajar dari pengalaman pelaku UMKM yang lain. Jika targetnya sampai perubahan perilaku, latihan keterampilan adalah kata kuncinya.
Strategi dan metode penyampaian pesan UMKM yang dikemas dengan kata sosialisasi tersebut karena pada umumnya sosialisasi atau bahkan program pemerintah itu pada awalnya saja dilakukan atau dijalankan. Setelah itu, tidak dilanjutkan apalagi dilakukan penelitian secara terukur. Lebih banyak yang tidak diikuti perkembangannya dan dibiarkan begitu saja.
Akhirnya, banyak program terbengkelai, tidak jalan alias gagal. Ini hampir terjadi di semua instansi pemerintah. Seperti dikemukakan Everett M Rogers dan F Floyd Shoemakers dalam buku Communication of Innovations, di negara-negara berkembang, suatu inovasi diperkenalkan ke masyarakat, hanya 10% yang mampu bertahan dan berkembang, selebihnya 90% akan mati layu sebelum berkembang.
Bila demikian adanya, bisa dibayangkan berapa dana yang berasal dari rakyat yang hanya dihambur-hamburkan, dan pada akhirnya tidak bermanfaat untuk pembangunan suatu bangsa. Sebutan lazimnya adalah pemborosan uang negara.
Penyebabnya sederhana, inovasi atau pesan-pesan program pembangunan itu tidak berorientasi pada kebutuhan rakyat. Hanya jargon-jargon yang mencuat ke permukaan yang sifatnya hangat-hangat tahi ayam. Inovasi dan pesan itu hanya berorientasi kepada inovasi atau pesan itu sendiri. Dampak atau perubahan pesan itu kurang diperhitungkan. Dengan kata lain, sosialisasi tidak dilakukan secara profesional.
Kita melupakan salah setu unsur penting UMKM, yakni makna subjektif bagi masyarakat. Makna subjektif bagi masyarakat adalah anggapan atau sikap masyarakat yang merupakan pengguna (klien) UMKM dalam menggunakan produk-produk yang dihasilkan. Dapat diibaratkan wanita itu dikatakan cantik, tergantung dari siapa yang melihatnya. Kalau yang melihatnya menilai cantik, masuklah wanita itu dalam kategori cantik. Sebaliknya, meskipun wanita itu dalam realitanya cantik, kalau yang melihatnya mengatakan jelek, wanita menjadi jelek. Kira-kira begitulah makna subjektif masyarakat.
Untuk itu, dalam sosialisasi pesan UMKM ini juga harus melibatkan para pelakunya, yakni masyarakat.
Untuk itu, di masa mendatang, perencanaan dari bawah sudah selayaknya diperhitungkan.
Perubahan paradigma harus dilakukan. Pilih kebijakan perencanaan yang memerlukan top down dan perencanaan yang menggunakan bottom up.
Secara teoritis, sosialisasi mencakup komunikasi dan dinasi. Di antara keduanya ada perbedaan arti dan peran. Komunikasi adalah proses pesan UMKM dioperkan dari sumber komunikan kepada penerima pesan. Sementara itu, difusi merupakan proses pesan tersebar kepada anggota penerima. Dengan demikian, dampak yang ditimbulkan berbeda.
Dalam komunikasi dampak yang muncul adalah sekadar perubahan pengetahuan. Lain halnya dengan difusi, dampak yang diharapkan muncul sudah mencakup perubahan perilaku.
Model tersebut perlu dikemukakan agar produk-produk UMKM bisa memberikan nilai tambah. Terlebih lagi UMKM saat ini sudah dianggap sebagai tulang punggung perekonomian nasional di tengah krisis ekonomi nasional.
Sayangnya, harapan menjadi tulang punggung tadi belum menjadi sebuah kebijakan nasional yang membumi. Ditambah lagi dengan sosialisasi yang belum profesional sehingga pesan-pesan yang seharusnya sampai ke pelaku usaha tidak pernah sampai. Antarinstansi pemerintah seharusnya sudah memikirkan lembaga mana saja yang pantas disandingkan untuk membantu perkembangan UMKM.
Jangan sampai semua ini hanya bagus di atas kertas tapi sulit dilaksanakan.
Kunjungan Menkop dan UKM ke Bali
| |
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Suryadharma Ali mengatakan defenisi kelompok usaha lemah adalah tidak berdaya dalam kemampuan memasarkan dan menciptakan jaringan usaha, mengakses sumber keuangan. banyak sekali masyarakat tak punya kemampuan itu. maka perlu gerakan pemberdayaan oleh pemerintah dan masyarakat. Partisipasi masyarakat dibutuhkan, kalau ada program pemerintah tanpa partisipasi tidak bisa. Harus ada sinergi pemberdayaan program. Kita tidak akan enak akalau ada tetangga kita merintih kekurangan makanan. Oleh karena itu, pemberdayaan ini penting agar dapat memberikan kebahagiaan bagi masyarakat sekitar. Kalau kita ingin meneguhkan partisipasi mengentaskan kemisikkainan sangat tepat. Populasi usaha terbesar terletak pada usaha Mikro (UMK) dengan modal Rp50 juta. Usaha kecil Rp50 juta- Rp1 miliar dan menengah Rp5 miliar. Jumlah UMK mencapai 95,7 persen dari populasi pengusaha di Indonsia. Kontribusi terhadap PDB 53 persen. Kelompok UM 0,01 persen memberikan kontribusi 46 persen. Ini disebut ketimpangan.
Koperasi Wanita Setyabakti sistem tanggung renteng dicetuskan kaum perempuan dan oleh Kemenkop ditularkan ke tempat lain. Kami ada program khusus tani, perempuan keluarga sehat sejahtera (Perkassa). Semakin keluaga miskin, semakin tinggi tingat ketergantungan pada ibu. keluarga miskin bagian suami mensejahterakan keluarganya. Sang istri jadi tumpuan keluarga. Oleh karena itu, perlu diberdayakan kaum ibu. Perempuan adalah kekuatan baru dalam peningkatan kesejahteraan keluarga. Kalau berjalan program ini sekurang2nya timbul kepercayaan dari kaum pria. Muncul kepercayaan mengelola usaha lebih baik. Kebijakan pemerintah memperhatikan beragam aspek arena harus berkesinambungan. Bahwa segala macam pembangunan harus memperhaikan lingkungan. Pada saat ini banyak lingkungan rusak, penyebabnya antara lain, karena kurang perhatian terhadap lingkungan. teguran alam sudah keras dan banhyak nyaea yang melayang. Koperasi tercemar ketika KUT tidak mengembalikan tunggakan senilai Rp8 triliun yang macet Rp5 triliun. ada koperasi KDI (koperasi distribusi
Sekretaris Meneg Koperasi dan UKM
| |
Pelaksanaan Program Kegiatan Tiap Eselon Sudah Dilakukan
Jakarta,SENTANA
SEKRETARIS Kementerian Negara Koperasi dan UKM Guritno Kusumo mengakui bahwa pihaknya telah diinstruksikan oleh Afenegkop dan UKAf Syarif Hasan untuk membual laporan kinerja tiap eselon yang ada di lingkup kementerian.
"Memang betul Pak Menteri mengtslruksikan untuk membual laporan kinerja pelaksanaan program keggiatan yang dikerjakan selama mi oleh masing-masing eselon I. Kami sendiri di Sesmenegkop dan UKM sudah hampir rampung. Kemungkinan di eselon lainnya sudah dibuat, karena ada jadwal untuk menjelaskan ke publik pelaksanaan program kegiatan baik yang berhasil maupun yang tak berhasil untuk dijadikan evaluasi, " ujarnya kepada SENTANA di Jakarta, Jumat (I0/I2).
Dikatakan, sceara menyeluruh pelaksanaan program kegiatan Kemenegkop dan UKM tiap unitnya akan digabung menjadi laporan ulama. Disitu nani mva akan kelihatan yang berhasil dan yang kurang berhasil. Yang berhasil tentu ditingkatkan terus dan yang kurang, kendalanya apa dan jalan keluarnya. "Termasuk akan diketahui sejauh mana penyerapan Anggaran Kemenegkop dan UKM tahun anggaran 2009 mi. Dan menurut rencana akan ada pertemuan pada pertengahan bulan Desember 2009 ini, " ujarnya menambahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar